More About Me...

Keep it simple, but build it well, keep it ordinary but make it in extraordinary ways. ~ Darius Triputra

…no mountain high enough …no valley too low… (pour)


Taken from Sepedaku.com by Pak de Pour , the philosophy of cycling in our life :

...Bila capek mengayuh, istirahatlah. Minum, makan dan ambil napas. Tapi jangan pernah menyerah…

Bersepeda selain mendapat manfaat sehat, ternyata juga memiliki nilai nilai lain. Ketekunan, kebulatan tekad, dedikasi pada tujuan. Dan pelajaran yang utama adalah mengenali diri sendiri. Seberapa jauh kita kenal tentang diri sendiri. Kekurangan dan kelebihan yang kita miliki.

Olahraga yang sangat bersahabat dengan alam ini adalah olahraga yang bisa dilakukan dengan tingkatan umur mulai dari anak2 sampai manula, tingkat amatir sampai atlit, bermacam latar belakang pendidikan, latar pekerjaan: dari pegawai negeri, pegawai swasta, dan tidak kenal tingkatan pangkat (Cycling, Februari 2008 )
Arti kata sepeda bukan berarti sekedar sehat dan kosong polusi belaka.
Sepeda adalah perlawananan. Perlawanan? Apa yang dilawan dengan bersepeda? Saat ini sepeda juga berarti anti gravitasi. Dan perlawananan anti gravitasi itu tidak dilakukan di luar angkasa. Tapi di bumi kita tercinta ini. Contohnya adalah yang dilakukan para BMX’er dari Bandung dan Tangerang yang meliukkan sepedanya dengan indah seperti penari Bedhoyo di Keraton Surakarta di sebuah acara di JPG beberapa minggu lalu. Mereka melepaskan energi yang besar dengan ketepatan perhitungan sehingga mampu menggabungkan antara keluwesan dengan kekuatan. Hasilnya adalah keindahan.

Seorang teman di Yogyakarta yang berprofesi sebagai guru beropini bahwa sepeda adalah media yang bagus untuk melakukan “perlawananan”. Paling sedikit untuk melawan diri sendiri. Kata perlawananan menurutnya adalah bukan dengan menolak semua kendaraan lain. Adalah sebuah kebodohan bila arti kata lawan hanya dipersempit jadi sekedar “anti”. Kata lawan yang sempit artinya itu hanya akan membuat orang lain jadi tidak nyaman bahkan akan menimbulkan kebencian. Sebuah hal yang mustahil bila kita membenci kendaraan bermotor. Di daerah pedesaan, karena hadirnya kendaraan bermotor maka perekonomian desa jadi maju. Membajak sawah dengan traktor akan banyak menghemat waktu dan efektifitas lahan jadi meningkat. Hasil pertanian dapat segera ditukar dengan keperluan lain. Di perkotaan, pekerjaan dapat selesai dengan bantuan kendaraan bermotor. Dari urusan administrasi, belanja sampai urusan perceraian.Perlawananan disini berkaitan dengan stigma bahwa pengendara sepeda adalah pengguna moda transportasi yang selalu harus dikasihani. Pada kenyataannya, banyak pengendara motor yang harus dikasihani. Di Jakarta saja, kemacetan timbul karena hal yang kecil, dilanggarnya lampu lalulintas! Sehingga ada pepatah yang berkata bahwa di Jakarta terjadi paradoks peraturan. Bila dilarang artinya boleh, dan bila boleh artinya dilarang. Apa buktinya? Mari kita perhatikan di tiap pertigaan atau perempatan yang ada lampu lalulintasnya. Bisa dipastikan terjadi paradoks disitu. Ketika lampu hijau banyak kendaraan yang berhenti. Ironisnya ketika lampu merah nyala malah banyak yang tidak peduli. Apa banyak dari kita-pesepeda-juga seperti itu? Melanggar peraturan lalu lintas? Atau malah melawan arus? Karena kita naik sepeda?
Kembali dengan arti kata lawan. Karena menyadari keadaan yang seperti itu, maka dengan naik sepeda mungkin kita bisa beri sebuah penyadaran dengan memberi contoh yang baik. Pesepeda berlaku tertib dengan taat peraturan lalulintas. Menghormati peraturan adalah salah satu contoh manusia yang bisa menghargai diri sendiri dan orang lain. Jadi inilah arti kata lawan itu. Lawanlah dirimu sendiri, lawanlah contoh yang buruk dengan memberi contoh yang baik. Lawanlah kekacauan dengan ketaatan. Lawanlah kenyataan yang selalu menyalahkan orang lain, kenyataan yang ikut orang lain dengan sebuah kesadaran: bahwa yang baik bagi orang lain belum tentu baik bagi diri kita.

Arti tanjakan

Telah disebutkan diatas bahwa manfaat bersepeda tidak hanya ditinjau dari didapatnya manfaat kesehatan tapi bisa juga dilihat sebagai sarana pembelajaran. Kita belajar untuk fokus pada tujuan, membulatkan tekad dan mendedikasikan segala daya dan upaya.

Mari kita mulai dari tujuan. Stephen R. Covey dalam bukunya yang terkenal “The 7 Habits of Highly Effective People” menempatkan kata “Tujuan” sebagai dasar untuk mencapai kemenangan pribadi. Dengan tahu tujuan, maka manusia dapat memfokuskan seluruh tenaga dan pikiran. Dan yang terutama tidak membuang waktu untuk hal yang percuma.

Begini analoginya: para penggenjot sepeda mempunyai reaksi yang berlainan ketika harus mendaki tanjakan yang terbentang di depan mata. Ada yang mengeluh dan terus mengeluh, ada yang ragu ragu, ada yang tanpa ragu langsung mengayuh sekuat tenaga tanpa strategi yang baik, ada juga yang berhenti untuk istirahat kemudian mengatur langkah dan tenaga serta menetapkan strategi.
Semua reaksi merupakan hal yang lumrah dan tulisan ini bukan bertugas jadi hakim atas reaksi reaksi yang timbul karena penulis juga pernah tidak kuat mendaki.

Kita sudah mempunyai sebuah tujuan: mendaki tanjakan. Entah itu tanjakan2 di jalur Cihuni, tanjakan 2 di jalur Sop, tanjakan di jalur Rindu Alam, tanjakan di Pisang dan Sumur atau “tanjakan2” yang lain. Misalnya dalam kehidupan yang kita jalani. Pada dasarnya masalah yang selalu ada adalah sebuah “tanjakan”. Macamnya juga berbeda. Ada tanjakan yang “kecil”, ada tanjakan yang “panjang”. Dan masalah yang selalu ada juga sebuah tanda bahwa kita masih hidup. Bila sudah tidak ada masalah yang timbul mungkin dapat dipertanyakan: “masih hidupkah saya?”.
Tanjakan adalah sebuah tujuan yang harus dilalui, setelah kita memfokuskan diri kita dengan segenap kemampuan ditambah ketekunan dalam mengayuh sambil mendedikasikan diri supaya tanjakan ini bisa dilalui.
Tujuan sudah didepan mata maka saatnya sekarang tenaga dan pikiran dicurahkan supaya tanjakan didepan mata didaki.
Tekad dibulatkan dengan berbagai macam motivasi: tidak mau jadi bahan cemoohan, mau dapat gelar King Of Mountain, atau hanya sekedar menguji batas kemampuan diri sendiri.
Sesudah motivasi didapat maka tinggal ketekunan kita mengayuh sepeda untuk mendaki tanjakan itu sambil menerapkan strategi yang tepat.
Strategi dibutuhkan untuk mengatur napas dan tenaga, mengatur posisi gir sepeda. Dibutuhkan sebuah kerendahan hati yang besar untuk belajar dan bertanya guna mendapatkan strategi yang sesuai guna mendaki sebuah tanjakan. Dan dibalik semua tanjakan panjang pasti ada “bonus” berupa turunan yang panjang. Semua pembalap yang ikut di gelaran Tour de France percaya akan hal itu, dan mereka punya sebuah pepatah: “Jangan pernah takut dengan tanjakan. Kalau kamu tidak bisa melewati tanjakan pasti tidak akan pernah sampai di garis finish”

Setidaknya hal itu yang dilakukan oleh Lance Armstrong ketika dirinya divonis kanker prostat oleh dokter dan dipastikan tidak boleh lagi mengayuh sepedanya. Dirinya, dengan dukungan istrinya serta anaknya, tetap mengayuh sampai menjuarai Le Grand Tour de France sebanyak 3 kali berturut-turut. Lance Armstrong tidak menyerah. Semua tanjakan yang ada di depan matanya dilalui dengan ketekunan, dedikasi dan fokusnya Lance. Lance Armstrong tidak pernah merasa jadi pecundang karena kalah di tanjakan oleh “Raja Tanjakan” seperti Richard Virenque. Dengan tekun Lance mendaki. Perlahan tapi pasti. Lance tidak masuk 5 besar tapi hal itu tidak mempengaruhi posisinya secara keseluruhan di gelaran Tour de France. Pada akhirnya di tahun 1997 Richard Virenque dihukum oleh UCI karena memakai doping. Siapa “Raja Tanjakan” sebenarnya? Virenque atau Armstrong? Sebuah pertanyaan timbul: kenapa para “Raja Tanjakan”selalu menipu dirinya sendiri? Kenapa mereka tidak percaya diri dengan cara menerima diri mereka apa adanya? Dan di seluruh dunia masalah doping selalu dimiliki oleh para “Raja Tanjakan”. Sesudah Richard Virenque beikutnya adalah Floyd Landiss.

Lawan dari tanjakan

Lalu setelah tanjakan pasti ada turunan. Adanya turunan tidak serta merta membuat kita terlena. Karena tetap dibutuhkan daya konsentrasi yang tinggi untuk mengendalikan sepeda ( baca: diri ) supaya tidak jatuh, atau terbalik. Karena bila kita turun tanpa kendali dari tempat yang tinggi tanpa menguasai sepeda dipastikan kita tidak mencapai garis finish dalam keadaan selamat. Finish mungkin bisa dicapai, tetapi kondisi kita sudah babak belur. Frame patah, RD patah, badan luka luka akibat lalai mengendalikan diri.
Para DH’er di Tjikole dan Gn. Pinang bisa jadi acuan dalam pengendalian diri dan sepeda melewati turunan. Untuk para DH’er yang seolah berpacu seakan besok kiamat tiba dengan kecepatan yang fantastis melewati segala macam rintangan mulai dari akar pohon, batu, dan batang pohon yang rubuh, pengendalian sepeda terutama diri adalah kunci. Bagaimana melewati rintangan yang ada di depan mata dan menempuh trek dengan waktu tersingkat dengan tetap mengutamakan keselamatan.

Dan bagi para DH’er diseluruh ujung bumi ada sebuah hal yang akan mereka lakukan sesudah seluruh trek selesai dijejaki. Mereka akan berkumpul, tertawa dan bersenda gurau karena bisa mendekati kematian tanpa harus masuk kedalamnya. Turun dari ketinggian 1000m dpl ke ketinggian 50m dpl dengan melewati bermacam rintangan dan ditempuh dengan waktu singkat. Berbahaya? Olahraga ekstrem? Nekat? Bagaimana dengan penuh perhitungan dan sebuah kemampuan yang timbul karena sadar akan kelebihan dan kekurangan diri sendiri?
Sebuah pengalaman yang luar biasa. Sebuah pengalaman yang mampu membuat seorang manusia menjadi begitu menghargai hidupnya di alam fana ini. Dan akan mengisi kehidupan dengan hal2 yang positif belaka.

Bagaimana dengan para XC’er dalam menghadapi turunan? Nikmati saja dengan tanpa lupa pada pengendalian. Dan jangan lupa juga untuk mengamati kondisi trek.
Kenapa tetap perlu sebuah pengendalian? Turunan bisa dianalogikan dengan rahmat atau rejeki dari Yang Maha Kuasa. Rejeki yang kita terima adalah sebuah peringatan. Apakah kita ingat dengan orang lain? Apa hubungannnya dengan turunan yang kita temui di trek? Hubungannya jelas sekali, bila kita hanya gembira menjejaki turunan tapi tanpa pengendalian bisa dipastikankan terjadi malapetaka. Bila kita tidak jaga jarak di sebuah turunan ada kemungkinan kita akan membuat orang lain celaka. Entah ditubruk atau menubruk. Bila kita tidak memperhatikan kondisi trek maka kita pasti jatuh. Bahkan dalam beberapa hal, sepeda mampu kita kendalikan, jarak tetap kita jaga. Tapi banyak hal tidak terduga tetap saja terjadi.
Tapi itulah kenyataan. Kenyataan jauh dari kebenaran. Setiap tanjakan pasti ada turunan. Itu adalah sebuah hukum kekal alam semesta yang abadi.

Bagaimana? Masih malas mendaki tanjakan? Jangan takut…

…no mountain high enough
…no valley too low…
(pour)

Why Ancient Egypt Fell ?

Why Ancient Egypt Fell ?
Kenapa Kerajaan Mesir kuno yg begitu kuat hancur begitu cepat 2000++ Tahun yg lalu ? The Answer is because of Global climate change. Hari ini gw nonton Discovery Channel n gw jadi mikir kalo sekarang kampanye buat Global Warming makin gencar, tapi efek nyatanya apa mungkin belum terlalu keliatan secara dramatis, tp sejarah udh nunjukin kalo Perubahan Iklim dapat berarti luas, mengeringnya sungai Nil, berakibat hancurnya kerajaan Mesir kuno, so.. stop global warming, reduce petrol consumption, bike2work, hehe. Nantinya i'll post my bicycle activity here :) btw ,Kemarin nonton Dark Night, banyak yg bilang seru filmnya, tapi gw ga terlalu menikmati, film Batman yg ini terlalu serius n pakai otak nontonnya, sekarang lagi nungguin The Mummy 3 sama Hellboy 2, mudah2an bisa direlease secepatnya di Indo.

Darius blog 2.0 is here :D

Yap, akhirnya direlease jg blog ini... thanks buat Robert yang sering support buat bikin blog..
anyway..blog ini blm selesai, dah keburu malem n inetnya lagi jelek T_T secepetnya I'll compose another post and edit the layout.
thanks.